MENGELOLA PENGETAHUAN DAN MODAL INTELEKTUAL DENGAN
PEMBELAJARAN ORGANISASI: SUATU GAGASAN UNTUK IPMALAY
MUKADIMAH.
Ikatan pelajar mahasiswa labuhan batu yogyakarta (IPMALAY), seperti juga organisasi lainnya, merupakan kesatuan sosial (social entity) dengan batas-batas yang relatif dapat diidentifikasikan dan dapat dikendalikan secara sadar pada satu arah yang konsisten. Sebagai suatu kesatuan sosial ipmalay terdiri dari kelompok orang dengan sifat dan perilaku individu yang berbeda-beda,berinteraksi, saling mempengaruhi dan mempunyai keterkaitan satu dengan yang lainnya. Sebagai suatu organisasi kekeluargaan berlandaskan pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat indonesia khususnya masarakat labuhan batu, keluaran (output) yang dihasilkan IPMALAY adalah manusia yang mempunyai kualitas pengetahuan dan keterampilan, produk-produk ilmiah serta jasa untuk berbagai kegiatan masyarakat.Asupan (input), proses dan keluaran (output) IPMALAY adalah perilaku, pengetahuan, dan keterampilan, yang menyatu pada manusia. Berbeda dengan kegiatan industri manufaktur dimana mesin harus dikendalikan operator melalui pendekatan yang top-down, sehingga mesin berfungsi sesuai dengan instruksi mereka, IPMALAY mengelola manusia sebagai manusia yang mampu mengatur diri.Mereka tidak pernah bisa dikontrol seperti mesin karena akan menghilangkan hakekat manusia dan konsep kekeluargaan . Sebaliknya mesin dapat rusak dan perlu diganti oleh manajemen sedangkan manusia mampu melakukan regenerasi diri dan secara alamiah akan berubah dan berevolusi. Manajemen manufaktur mungkin membutuhkan metafor mesin yang kuat untuk dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitasnya, akan tetapi apabila hal ini diterapkan di IPMALAY akan menimbulkan ketidaksenangan komunitasnya, karena manusia tidak suka diperlakukan seperti roda gigi dan mesin dan tidak sesuai dengan konsep pemberdayaan dan kekeluargaan
Pertanyaannya adalah, organisasi manajemen dan tipe kepemimpinan yang bagaimana
yang tepat guna diterapkan pada kelembagaan seperti IPMALAY, sehingga mampu beradaptasi secara berkelanjutan di abad yang kompetitif, cepat berubah, penuh dengan ketidak pastian, harus bergerak cepat, serta tipisnya batas-batas di era kesejagatan.
JARINGAN-JARINGAN SOSIAL DAN JARINGAN-JARINGAN KOMUNIKASI.
Satu kesatuan jaringan-jaringan sosial (suatu sistem sosial) yang hidup adalah jaringan-jaringan komunikasi yang membentuk dirinya sendiri. Artinya suatu organisasi manusia hanya akan menjadi suatu sistem hidup bila organisasi tersebut tersusun dalam jaringan atau mengandung jaringan-jaringan yang lebih kecil dalam ruang lingkupnya. Unsur-unsurnya adalah komunikasi yang berulang diproduksi dan direproduksi oleh jaringan komunikasi dan tidak dapat berada diluar jaringan tersebut.
Jaringan-jaringan komunikasi membentuk dirinya sendiri secara mandiri dan tiap komunikasi menciptakan pemikiran dan makna yaitu suatu gagasan pikiran yang memerlukan/memperkenankan penafsiran (meaning), yang menghasilkan komunikasi
lebih lanjut, sehingga keseluruhan jaringan menghasilkan dirinya sendiri. Komunikasi
yang berulang-ulang melalui umpan-balik akan menghasilkan sistem kepercayaan,
kejelasan, dan nilai bersama misalnya sesuatu konteks makna yang terus menerus
dipelihara oleh komunitas secara berkelanjutan.
Komunitas manusia sebagai jaringan-jaringan komunikasi melibatkan koordinasi perilaku secara berkesinambungan, dengan melibatkan pemikiran konseptual dan bahasa simbolis,menghasilkan citra mental, pemikiran, dan makna serta terus menerus mengkoordinasikan perilaku masyarakatnya. Jaringan-jaringan komunikasi mempunyai efek ganda yaitu menghasilkan gagasan dan konteks makna dan menghasilkan sistem nilai, kepercayaan,aturan-aturan perilaku yang terintegrasi menjadi struktur sosial. bagi jaringan sosial yang membentuk dirinya. Seluruh jaringan sosial membentuk dirinya sendiri, menghasilkan konteks makna bersama, pengetahuan bersama, aturan perilaku, batasan, dan identitas kolektif anggotanya bagi jaringan sosial yang membentuk dirinya sendiri.Komunitas praktis merupakan bagian integral dari kehidupan manusia, yang selalu timbul dan berkembang sebagai jaringan informal, jalur komunikasi informal, serta jaringan hubungan lainnya yang terus menerus tumbuh, berubah dan beradaptasi dalam struktur formal organisasi Pada umumnya setiap organisasi memiliki komunitas praktis yang saling berhubungan (misalnya, kegiatan keagamaan, olah raga dll.). Semakin banyak yang terlibat dalam jaringan informal, semakin berkembang dan canggih jaringannya, sehingga organisasi semakin mampu belajar, menanggapi hal baru secara kreatif, berubah,berbuat dan berevolusi. Hidupnya organisasi ditentukan oleh komunitas praktis didalamnya. Revolusi teknologi informasi akhir di abad kedua puluh telah melahirkan suatu fenomena sosial baru, yang tersusun di sekeliling aliran informasi, jaringan telah menjadi suatu bentuk organisasi manusia dan mencitakan istilah “masyarakat jaringan” (network society) untuk mendeskripsikan dan menganalisa struktur social
ORGANISASI YANG HIDUP DAN BELAJAR DARI KEHIDUPAN.
organisasi yang mampu berkelanjutan adalah organisasi yang mampu belajar dan kreatif, hal ini hanya mungkin terlaksana apabila manajemen dan pimpinan organisasi memahami adanya interaksi dan saling mempengaruhi antara jaringan formal yang memiliki rancangan dengan jaringan informal yang membentuk dirinya sendiri. dalam Organisasi Struktur formal dalam organisasi dirancang dengan seperangkat aturan formal yangmendefinisi hubungan antar anggotanya, dan menetapkan distribusi kekuasaan. Struktur formal biasanya ditetapkan berdasarkan dokumen resmi organisasi dalam bentuk diagram organisasi, anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, kebijakan, strategi, sistim prosedur kerja, dan sebagainya. Sedangkan struktur informal adalah jaringan komunikasi yang berubah-ubah dan berfluktuasi. Pada struktur formal, fungsi dan hubungan kekuasaan lebih dipentingkan daripada orang, dan fungsi tetap bertahan walaupun terjadi pergantian orang, sedang pada struktur informal jaring-jaring terwujud pada orang-orang yang melakukan kegiatan bersama. Bila orang baru bergabung, seluruh jaringan akan mengatur ulang dirinya, dan apabila ada orang yang meninggalkannya jaringan akan berubah bahkan dapat terhenti atau bubar. Pada setiap organisasi terjadi proses interaksi dan saling mempengaruhi yang terus menerus antara struktur formal dan struktur informal. Kebijakan dan prosedur formal disaring oleh jaringan-jaringan informal, sehingga memungkinkan anggotanya kreatif menghadapi perubahan dan hal-hal yang baru. Idealnya, organisasi formal mengakui dan mendukung jaringan-jaringan informal dan mengakomodasikan inovasi anggotanya ke dalam struktur formal. Seperti juga pada organisme, hidupnya suatu organisasi (yaitu, fleksibilitas, potensi kreatif, kemauan dan kemampuan belajar), terletak pada komunitas-komunitas praktek informalnya.
Hidupnya struktur formal organisasi tergantung kedekatannya dengan jaringan-jaringan
informal. organisasi pimpinan organisasi yang telah berpengalaman mengetahui bagaimana bekerja dengan formal. Biasanya struktur formal di arahkan pada kegiatan rutin sedangkan struktur informal diandalkan untuk tugas-tugas non rutin.
Pemanfaatan struktur formal dan struktur informal menunjukkan bahwa cara yang efektif
untuk meningkatkan potensi kreativitas dan pembelajaran suatu organisasi memeliharanya agar tetap bersemangat dan hidup, adalah dengan mendukung dan memperkuat komunitas praktisnya. Agar komunikasi informal dapat berkembang perlu disediakan ruang sosial,sehingga dapat mencetuskan kreativitas, melepaskan beban pikiran dan penggerakan proses perubahan. Pemahaman pimpinan organisasi tentang perician proses yang terlibat dalam jaringansosial yang membentuk dirinya sendiri akan meningkatkan efektifitas peran komunitas praktis yang terdiri dari individu-individu dalam organisasi Berbeda dengan mesin yang dapat dikendalikan, suatu sistem hidup hanya bisa dipengaruhi dengan memberi stimulan (rangsangan) dan tidak dapat dikendalikan melalui intervensi atau instruksi.
Mengubah persepsi dan cara berpikir yang konvensional bukanlah suatu hal yang mudah tetapi akan memberi manfaat yang signifikan. Bekerja melalui proses yang inherendengan sistem hidup tidak memerlukan banyak energi untuk menggerakkan. organisasiYang dibutuhkan untuk suatu perubahan bukan energi tetapi gangguan yang bermakna melalui stimulus-stimulus. Jarang orang-orang yang berpendidikan dan kritis melaksanakan instruksi secara harfiah,tetapi memodifikasi, menafsir ulang, mengabaikan beberapa hal dan menambahkan rekaan. Terkadang mereka memberi tanggapan dengan menciptakan versi baru dari instruksi aslinya. Oleh pimpinan yang berorientasi mekanistik hal ini sering ditafsirkansebagai suatu perlawanan bahkan sabotase.
Sistem hidup selalu memilih apa yang harus diperhatikan dan bagaimana menanggapinya.Memodifikasi suatu instruksi adalah menanggapi gangguan secara kreatif, sebagai inti dari kehidupan. Dengan tanggapan kreatif, jaringan kehidupan dalam organisasi menghasilkan dan mengkomunikasikan makna, menegaskan kebebasan untuk terus menciptakan ulang jati dirinya. Bertindak pasifpun merupakan cara untuk menunjukkan kreativitas. Ketundukan mutlak hanya dapat dicapai dengan merampas kehidupan seseorang dan mengubahnya menjadi robot tanpa kebahagian dan gairah. Hal ini menjadi penting bagi organisasi yang berdasarkan pengetahuan, dimana aset-aset yang paling berharga adalah kekeluargaan, kebersamaan, kecerdasan dan kreativitas. Berbeda dengan organisasi tradisional yang mengutamakan kekuasaan, organisasi yang hidup mengedepankan berbagai kreativitas manusia dan menjadikannya sebagai sesuatu
kekuatan yang positif. Bila orang dilibatkan dalam proses perubahan sejak awal, mereka
akan memilih “untuk diganggu”, karena proses itu sendiri bermakna bagi mereka. Hal
penting yang harus dilakukan adalah membuat proses perubahan bermakna sejak awal,
merangsang partisipasi, dan menciptakan suasana yang kondusif untuk menumbuhkan
kreativitas.
Memberi impuls dan pedoman tetapi bukan memberi perintah yang tegas merupakan Perubahan dalam konteks kekuasaan, dari dominasi dan kendali menjadi partisipasi dan kemitraan. Ini adalah implikasi mendasar dari pemahaman baru mengenai kehidupan,dimana kemitraan dengan memelihara hubungan yang simbiosis, menjalin hubungan,fleksibilitas, dan ko evolusi adalah bagian dari kehidupan.
Membawa kehidupan ke dalam organisasi dengan memperkuat komunitas praktisnya tidak hanya menumbuhkan fleksibilitas, kreativitas dan potensi pembelajaran tetapi juga meningkatkan martabat individu dalam organisasi Fokus organisasi pada kehidupan dankemandirian adalah penguatan . organisasi kedaerahan yang sehat secara mental dan emosional membuat individu di dalam organisasi mempunyai keyakinan bahwa usaha untuk meraih cita-cita pribadi tidak harus mengorbankan integritasnya mencapai cita-cita organisasi tersebut.
PENUTUP
SUATU GAGASAN UNTUK IPMALAY
Cita-cita luhur IPMALAY sebagai suatu organisasi kedaerahan yang berlandaskan pendidikan dan kekeluargaan , adalah mengemban misi
mencerdaskan dan mengembangkan kehidupan bangsa yang berbudi luhur, menjadi pusat
pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, ilmu sosial dan kemanusiaan yang
unggul dengan menyelenggarakan kegiatan yang bermutu tinggi berbasis pendidikan , melakukan penelitian dan pengembangan untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa Indonesia dan khususnya labuhan batu serta kemaslahatan umat manusia. Sebagai suatu masyarakat pengetahuan (knowledge society), kompetensi inti (corecompetence) IPMALAY adalah pada pengurus dan masarakatnya sebagai satu kesatuan modal intelektual sehingga kinerja (performance) IPMALAY ditentukan oleh kapasitas pengurus dan masarakatnya.
Untuk dapat mewujudkan cita-cita luhur dan mengemban misinya, IPMALAY harus mempunyai kemampuan untuk mengurus kebutuhan dan dinamika aset dan modal intelektual yang melekat pada individu-individu dalam satu kesatuan organisasi berdasarkan hal-hal sebagai berikut:
1. Mempunyai kemampuan untuk mengkreasikan pengetahuan secara efektif melalui
peningkatan kompetensi secara individu seiring dengan kemampuan membangun modal intelektualnya.
2. Mengembangkan modal intelektual dalam satu lembaga pengetahuan (knowledge
institution) melalui proses transformasi kompetensi individu-individunya dan
disepakati oleh individu-individu untuk berbagi pengetahuan (knowledge sharing)
sebagai modal intelektual milik IPMALAY.
3. Mentransformasikan modal intelektual menjadi modal dengan meningkatkan nilai tambah (added value) melalui kegiatan bermutu berbasis pendidikan untuk menciptakan produk-produk baru dan mengembangkan potensi yang dimiliki IPMALAY . Wahana untuk dapat mampu mengkreasikan pengetahuan, meningkatkan modal intelektual seiring dengan peningkatan kompetensi individu-individunya dan mentrasformasikan modal intelektual menjadi modal adalah bentuk Pembelajaran organisasi (Organizational Learning). Komunitas praktis yang terdesentralisasi (misalnya kelompok keagamaan, pendidikan, olah raga, seni dll.) perlu ditumbuh kembangkan di IPMALAY,semakin banyak yang terlibat, semakin canggih jaringannya sehingga IPMALAY semakin mampu belajar, menanggapi hal baru, berubah dan berevolusi. Peningkatan kualitas dan kompetensi individu-individu staf pengajar serta penciptaan modal intelektual mensyaratkan adanya lingkungan (environment) dan suasana yang kondusif yaitu suatu lingkungan yang sehat mental dan emosional sehingga
pengembangan individu-individu merupakan bagian yang menyatu dan utuh dari
pengembangan. IPMALAY.
Rasa saling percaya harus dikembangkan dan dibina antar individu-individu dan
antara individu-individu IPMALAY , demikian pula pada unit-unit kecil yang
terdesentralisasi (misalnya, kelompok keagamaan). Bila rasa saling percaya tidak mampu
ditanamkan akan timbul kondisi dimana semakin tinggi kompetensi individu-individu
mengakibatkan semakin rendah modal intelektual IPMALAY.
Nilai-nilai kebersamaan (share values) IPMALAY, yang disusun bersama-sama oleh individu-individunya harus menjadi landasan yang dipercaya untuk meraih cita-citanya. Budaya saling percaya mempercayai yang dilandasi oleh nilai-nilai kebersamaan akan mendorong terciptanya jejaring (network) yang sinergistik. IPMALAY harus dapat membangun jaringan-jaringan komunikasi yang mampu menciptakan pemikiran, makna bersama, pengetahuan bersama, aturan perilaku, batasan-batasan serta indentitas individu-individunya. IPMALAY memahami bahwa interaksi antara struktur formal
dan struktur informal merupakan suatu proses untuk mengakomodasikan inovasi individu-individu ke dalam struktur formalnya. IPMALAY juga harus mampu menciptakan budaya belajar melalui berbagai kegiatan misalnya didalam kelompok keagamaan , antar kelompok keagamaan melalui penciptaan jaringan, sehingga terjadi perkembangan dan pertumbuhan pengetahuan.
Diterapkan manajemen kinerja yang objektif, berkeadilan, transparan dan memberi
motivasi berprestasi terhadap individu-individu kita, serta sistem insentif yang
tepat guna.
Kualitas, dan kompetensi pemimpin yang tepat guna menjadi dasar untuk menumbuhkan rasa saling percaya dan membangun budaya belajar. Pada proses awal dimana rasa saling percaya dan budaya belajar belum terbentuk, dibutuhkan pemimpin yang visionari dan transformasional yaitu yang mempunyai visi yang kuat dan mampu mentransformasikan rasa saling percaya dan budaya belajar kepada seluruh individu-indivudunya serta menjadi satu kesatuan sistem yang disapakati.
Pada saat rasa saling percaya dan budaya belajar mulai tumbuh dibutuhkan pemimpin
yang sinergistik yaitu yang mampu mensinerjikan ide, gagasan, inovasi dan kreativitas
individunya dalam unit-unit yang lebih kecil dan terdesentralisasi dalam satu kesatuan
wadah kebersamaan.
Dan apabila rasa saling percaya dan budaya belajar sudah mantap dan mapan, diperlukan adanya seorang pemimpin yang “tut wuri handayani”, seorang pemimpin yang mampu secara terus menerus menuntun dan menjaga keberlanjutan meningkatan nilai tambah, melalui pemanfaatan pengetahuan dan penciptaan teknologi guna
kemaslahatan masyarakat. Apabila IPMALAY mampu mengelola pengetahuan dan modal intelektualnya dengan pembelajaran organisasi sudah selayaknya apabila seluruh anggota IPMALAY mempunyai rasa optimis terhadap perwujudan cita-cita luhur IPMALAY, karena sebagai organisasi kedaerahan, IPMALAY masih memiliki modal
intelektual yang terus-menerus dapat dikembangkan, masih memiliki kredibilitas dan
masih memiliki jaringan-jaringan yang luas.
.
Jumat, 21 Maret 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar