Jumat, 21 Maret 2008

untuk kalangan muda

Salam perubahan
Mahasiswa…..mahasiswa…mahasiswa……
Anda boleh berbangga kali ini berada diposisi aman pertama. Aman dalam berkontrdiksi langsung dengan kegiatan produksi, aman dalam memasuki skat-skat struktur, kelas, idiologi, egoisme, dan lain-lain, posisi mahasiswa diuntungkan dalam hal ini. Begitupun dengan berbagai pasilitas yang didapat, baik itu akademis,informasi, atau subsidi yang diberikan oleh rakyat. Sehingga berawal dari sinilah sebenarnya kesadaran peran yang harus diambil semakin termanifestasi,bukan sebagai beban tapi tanggung jawab kita.
Angkatan 98 mampu menumbangkan rezim soeharto yang diktator, namun didalam kampus banyak para mahasiswanya ataupun aktivisnya mengalami inpotensi dalam menyuarakan perubahan,ketika berhadapan dengan pengusa kampus, orientasinya pun berubah ketika penekanan-penekanan akademis menjadi salah sebuah kontradiksi pokok baik mahasiswa, yang memang berkutat dengan konsumsi ilmu pengetahuan, semua kian termoderisasi seiring dengan tuntutan hidup yang semangkin mencekik.lalu aku bertanya apakah ini sebuah kematian untuk berpikir bebas?
Disinilah pentingnya untuk apa mengetahui menjadi mahasiswa?apakah kita harus berpikir pada orientasi akademis aja?menyelesaikan kuliah secepat mungkin,mengejar indeks prestasi tiga koma tanpa memikirkan hal-hal yang realistis, kalau kamu berpikir demikian kamu sangat keliru kawan sebagai mahasiswa.dan bukan itu sebenarnya hakekat dari mahasiswa,individualisme, adalah tidak sikap seorang mahasiswa yang katanya sebagai agen dari perubahan,maka dari itu cobalah berpikir lebih terbuka lagi.
Mahasiswa itu tidak hanya untuk dirinya sendiri dan harus lebih berguna bagi masarakat untuk menjawab kebutuhan dari masarakat dan harus mampu memberi solusi dan perubahan pada rakyat, cobalah berpikir untuk kebebasan,keadilan, dan kemakmuran rakyat secara demokrasi dan jangan bersikap apatis terhadap rakyat hanya karena mementingkan diri sendiri.
Mahasiswa adalah yang banyak diharapkan oleh rakyat untuk melakukan perubahan terhadap sistyem yang bobrok.mahasiswa kini sudah terdegradasi dari realitas sosial sebenarnya. Mahasiswa sekarang terkurung dari terali fakultatif yang menindas, generasi ini (mahasiswa) jika sudah terjangkiti penyakit apatis (acuh terhadap lingkungan dan realitas sosial yang merupakan cirri masarakat hedonis dan oportunis) dan yang lebih parah lagi telah dibalut oleh sikap individualisme,egoisme, dan budaya yang poya-poya.
Dari kejadian-kejadian yang diatas, peran mahasiswa menghadapi berbagai tantangan yang semuanya bermuara pada pertanyaaan mengenai posisi yang diemban oleh mahasiswa dalam mewjudkan proses perubahan dalam artian mewujudkan tujuan kehidupan yang berbangsa secara demokratis, dan pertanyaan sekarang apakah mahasiswa masih bisa memerankan fungsinya sebagai dari agen perubahan? Tentu saja pertanyaan ini hanya kita yang mampu menjawabnya, tak perlu dijawab dengan lisan yang cenderung hanya ngomong hiporkit, tetapi harus dibuktikan dengan sebuah langka nyata perubahan yang merupakan sebuah keniscayaan bagi sejarah baru.
Kita tidak boleh terjebak pada masa lalu yang mengakibatkan kita mandul dalam berbauat dan berkarya,memang jadi pelopor lebih sulit dari pada menjadi seorang pengekor. Tapi siapa lagi kalau bukan kita (mahasiswa) yang berperan sebagai barisan depan dalam proses menuju perubahan, kalau kita sependapat maka peran kita dalam proses perubahan ini adalah sebagai kaum memuluskan jalanya perubahan
Siapa lagi kalau bukan kita…..
Kapan lagi kalau tidak sekarang….

Tidak ada komentar: